Tentang Saya

Tampilkan postingan dengan label cerbung =D. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung =D. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Juli 2014

Lelaki Musim Hujan #2



Aku pernah merasa terpasung dalam menit-menit mematikan, menghujamiku dengan ratapan-ratapan penuh penghinaan ketika lelaki itu mencampakkanku. Aku beruntung karena aku tidak perlu sampai tertatih diujung kakinya, hingga Tuhan menepati janjinya mempertemukanku dengan seseorang yang baru, seseorang yang dengan aku melihat senyumnya saja, aku merasa seisi dunia tengah mencemburuiku karena aku adalah alasan atas senyuman magis itu tercipta. Seseorang yang dengan gelak tawanya saja, aku merasa bak peraih nobel perdamaian, karena tawanya mendamaikanku.

Kemarin ia menghadiahiku sepasang kelinci putih. Katanya kelinci-kelinci inilah yang akan memenuhi pekarangan rumah kami kelak, menemani kami minum teh atau sekedar melihat kebun mawar yang kami tanam bersama. Juga saat kami mulai menertawakan masing-masing gigi kami yang mulai tanggal atau rambut kami yang mulai memutih. Kelak, saat mimpi kami semakin menyata.

Hujan bisa tumbuh dimana saja, disudut bola mata, ditengah perayaan ‘thanks giving’ atau disela-sela kesembilan mata angin.

Hari ini pak pos tinggi tegap itu datang lagi, menyelipkan surat di sela-sela jeruji pagar lagi, aku memungutnya dan mendapati nama lelakiku di sampulnya. Aku membuka penutupnya dan mengeja isinya. Ia selalu tahu cara membuat perutku merasa tengah dipenuhi kupu-kupu. Ia mampu menyampaikan pesan yang tak mampu dilukiskan pelukis terhadap kuasnya yang menguning, juga jari-jari musikus terhadap tuts piano.

Kutipan Cerpen "Lelaki Musim Hujan"  oleh Syarah Tania

Jumat, 11 Juli 2014

Lelaki Musim Hujan #1


Aku berusaha mengingat lebih banyak. Entah pada hari apa tahun berapa, Aku menemukan diriku menangis sejadi-jadinya. Hari itu hujan dan aku menangis. Aku  tidak tahu mana yang lebih basah, hujan atau mataku.
Pertengahan malam tahun baru di sebuah tahun rahasia, belum pernah hujan sepelik itu mengguyurku tanpa ampun. Aku merasa kecil dihujaninya. Malam itu, bumi menangis deras sekali, Bukan tangis haru, melainkan tangisan yang mengiba. Malam pekat sekali seperti seorang penjahat yang menguntit anak kecil di taman bermain. Dan aku anak kecil itu, meringis kedinginan duduk bersandar di depan etalase pertokoan yang sedari tadi ditutup oleh pemiliknya.

We were both young when I first saw you
I close my eyes and the flashback start

Anak-anak kecil yang tadinya menari bermain kembang api di pinggir jalan, juga pengendara sepeda motor berhamburan ke bibir-bibir emperan toko atau berebut tempat di bawah pohon. Lalu aku? Aku merangkul tubuhku sendiri didepan etalase toko buku, berusaha mengabaikan beberapa panggilan masuk dari orang yang sama.

Jalanan tampak jahat, hitam sepekat jelaga, atau seperti monitor yang belum direparasi, Air di pelupuk mataku berhasil menghalangi pandangan,  hanya pantulan cahaya lampu di genangan air yang tampak. Aku membiarkan tangisan malam menghujani wajahku, membabi buta, seperti duri, perih sekali, merayap ke hati.
  
Kutipan Cerpen "Lelaki Musim Hujan"  oleh Syarah Tania

Sabtu, 01 Juni 2013

Senyuman Dibalik Jendela




“Aku bersumpah  nggak akan pernah menyukai tempat ini” Aku tengah menyingkirkan bebatuan yang nyaris menyandung tepat sehasta didepan.
“Baiklah, kita bertaruh, sugar!”
“Sebatang cokelat?” Aku melirik perempuan muda disampingku, berusaha menyama-ratakan langkah kami.
“Sepuluh batang” Senyumnya melebar sempurna
“Baiklah, lakukan apa yang harus dilakukan” Aku memberinya isyarat.
“Menyilangkan jemari? Baiklah” Perempuan itu dengan sigap menyilangkan jemari tepat didepan dadanya, dilanjutkan mengacak-acak rambutku detik berikutnya.
“Berapa lama lagi kita sampai,kak?” Aku menyeka keringat yang melekat sempurna di dahiku.
“Nggak akan lama lagi kok” Ia menarik punggung tanganku, menjauhi semak berduri tepat satu depa disamping kanan kami.
“Well, jadi aku benar-benar harus bersekolah di tempat seperti ini, kak? Harus melewati tempat sebegini menyeramkan setiap harinya. Ini bukan lelucon kan?”
Ia menggeleng teratur.

____________

                Gedung usang itu semakin terlihat lebih dekat. Tidak terlalu buruk memang, hanya saja ada beberapa bagian disana-sini yang nampak butuh perbaikan.
                Aku melirik Stela lekat, mengencangkan genggamanku pada jemarinya.
                “Kak” Ia jelas tahu bahwa aku tengah mencemaskan sesuatu.
                “Tenang,sugar. Kamu hanya cukup menyebutkan namamu didepan kelas dengan sedikit senyum” Ia menenangkanku.
                Aku terlahir sebagai anak yang canggung, dan jelas bukan pelaku adaptasi yang baik. Kenyataan yang dibicarakan ayah di meja makan perihal aku yang harus bersekolah di tempat ini benar-benar menohokku. Ayah bilang kami harus pindah ke tempat ini karena tuntutan pekerjaannya yang mendesak.
                Seingatku, aku kesulitan tidur dalam beberapa hari. Memikirkan apa aku akan menyukai sekolah baruku, atau sekedar menerka-nerka siapa yang akan menjadi teman sebangkuku.

                Ini tahun ketiga-ku di sekolah dasar, aku bahkan belum genap 8 tahun saat ini. Bagian yang paling kutakutkan adalah, adalah memperkenalkan diri, aku tidak mahir dalam hal ini.
                “Ayo, sugar. Kita hampir sampai” Stela mengeratkan genggaman tangannya sekali lagi.
                Aku merasakan butir-butir bening menggenangi dahiku. Seseorang menyambut kami di bibir gerbang sekolah. Ia membicarakan sesuatu dengan Stela dan aku sama sekali tidak berniat menguping, lalu kuedarkan saja pandangan ke sekeliling sekolah, tidak seburuk yang kuperkirakan. Dalam radius pandanganku, aku menangkap lekat pada sebuah jendela kelas yang setengah terbuka, seseorang tengah tersenyum kearahku, memamerkan sebaris gigi putih dan senyum penjamuan yang memecah sedikit mood burukku.
                Anak laki-laki dengan senyum perkenalan di sebuah jendela usang yang setengah terbuka, dan kupastikan senyuman itu berkekuatan magis.

Sabtu, 17 September 2011

dear my altair... #2

Hari pertama libur tidak seperti yang diharapkan, lagi-lagi membosankan. Aku hanya menghabiskan waktu berkeliling di dunia maya, memenuhi dinding blog-ku dengan catatan-catatan tak penting, membalas pesan-pesan yang menumpuk di email dan facebook-ku, dari teman-teman sekolahku dominannya. Mereka mengajukan pertanyaan yang nyaris sama “Bagaimana Liburanmu,Sam?”. Oh lord, sangat membosankan.
           
Tapi jujur saja aku paling tidak suka menghabiskan waktu berlama-lama di dunia yang menurutku sama sekali tak real itu. Aku pun mendiskonekkan sambungan internet.
            “Saaaammm… sammy…” Teriakan khas mama menggelegar dari lantai bawah. Bukannya aku sedang ber-hiperbola, tapi itulah kenyataannya. Tanpa menyahut aku langsung beranjak dari atas tempat tidur pink-ku yang cukup berantakan hari ini.
            “Haaaattttssyimmm” Aku menggaruk hidungku yang teramat gatal.Masakan mama memang tak perlu diragukan lagi cita rasanya, tapi aku tetap harus jujur bahwa aromanya sangat mengganggu hidungku.
            Aku menuruni tangga marmer menuju dapur dengan langkah gontai, efek liburan membuat tingkat kemalasanku bertambah parah. Dengan beberapa langkah saja aku sudah menghadap ke hidangan diatas meja lingkaran dengan warna kristal hijau vodka yang terkesan mewah. Pempek kapal selam yang menjadi menu wajib keluargaku terlihat sangat menggiurkan. Mama cukup terampil membuat makanan khas kotaku ini, mengherankan memang, betapa tidak, mama memang bukan orang asli kota ini melainkan perantauan ibukota yang diwajibkan pindah karena tuntutan profesinya. Dan ternyata disinilah mama bertemu dengan papa dan menikah.
            Well, perutku hari ini juga tidak cukup bersahabat. Aku hanya memakan beberapa sendok nasi tanpa menelannya. Dan kau tahu itu artinya apa? Aku harus rela mendengar omelan mamaku hanya gara-gara hal yang menurutku sangat sepele ini.
            “Sammy, jangan membuang-buang makanan begitu saja, kau pasti tak ingin kan dewi padi marah?” Mama mendelik padaku sambil mengunyah sisa-sisa makanannya
            “Oh,please mom. Itu hanya dongeng sebelum  tidur untuk anak kecil, dan lihat! Aku sudah jauh dewasa daripada 10 tahun yang lalu”
Aku memasang tampang memelas dengan harapan lepas dari kewajiban menghabiskan sisa nasi di piringku. Tanpa melihat ekspresi apapun di wajah mamaku, aku langsung meninggalkan meja makan dengan perut super enek. Mama hanya mengedikkan sebelah pundaknya sambil berlalu.
 
 

dear my altair... #1


            Aku Samantha Christabel, gadis imajiner lima belas tahun yang punya sejuta mimpi, mimpi yang mungkin diluar jangkauan khayal anak seusiaku. Relatif penyendiri dan cukup diam disaat-saat tertentu, setidaknya itu pendapat mama kalau aku mengurung diri di kamar seharian dan berkutat dengan hal-hal yang kusukai. Aku nyaris tidak ingin menyentuh kebiasaan hidup remaja Indonesia yang menurutku sangat konyol, bukannya aku cupu atau tidak lihai bergaul, buktinya aku dikelilingi orang-orang yang menyayangiku tapi tak benar-benar mengertiku.
            Mama bilang aku terlahir nyaris sempurna dengan IQ level yang bisa dibanggakan dan penampilan fisik yang cukup menarik. Aku pasti sangat berterimakasih pada mama seandainya saja dia tidak terus menekanku untuk sesegera mungkin mempunyai teman spesial, PACAR, kata terkutuk yang membuat telingaku alergi saat mendengarnya. Well, aku sudah enam kali mencoba menjalani hubungan dengan anak laki-laki seusiaku, tapi tetap saja tak mengubah pandanganku bahwa ‘pacaran’ hanya menyia-nyiakan waktu,cukup mengherankan memang kenapa remaja seusiaku sangat mengagungkan hal itu,entahlah.
            Brygita Pamela, adik kecilku yang hampir seratus delapan puluh derajat berbeda denganku. Usianya yang terpaut empat tahun dariku tidak menjadi jaminannya untuk bersikap sopan. yeah, gadis tomboy yang periang dan cukup dewasa dibanding usianya. Kami sering bertengkar hanya untuk memperdebatkan hal-hal yang tak penting seperti siapa yang berkuasa atas remote tv dan menentukan chanel mana yang akan ditonton atau hanya sekedar berebut antrian kamar mandi, sangat tragis memang. Obsesinya hanya satu, menjadi pelukis terkenal sekelas Leonardo Da Vinci. Dan dengan obsesiku? Singkat saja, menjadi pemimpi yang sukses,apapun itu.
Dunia SMA akhir-akhir ini sangat membosankan. Hanya berisi setumpuk tugas yang harus diselesaikan tepat waktu dan gosipan ria anak putri tentang cowok mana yang akan dikencani minggu ini, belum lagi kewajiban mengikuti bimbel untuk persiapan Ujian Nasional semakin membuat siapa saja tertekan. Tapi untungnya liburan akhir tahun sedikit menolong. Setidaknya aku bisa menghabiskan lebih dari setengah hariku untuk melakukan hal-hal menyenangkan selama liburan ini,semoga.