Tentang Saya

Sabtu, 06 Februari 2016

Terjebak Nostalgia



Setelah 5 tahun, akhirnya aku berkunjung lagi. SMA-ku tak sama lagi. Semuanya berubah, bangunannya, tanaman hiasnya, kelasnya, bahkan kantin favorit kami sudah tak ada lagi. Tapi selalu ada yang tak berubah, kenangannya. Aku seperti me-rewind rekaman dalam kepalaku hari ini.

Rasanya seperti baru kemarin kami menyanyikan lagu kelulusan dengan mata berkaca-kaca, atau mengabadikan foto-foto wisuda dengan senyum lebar diwajah kami. Aku baru saja sadar bahwa hari itu telah lama kami tinggalkan. Aku bergidik saat menulis ini, tidak percaya bahwa waktu memang benar-benar cepat berlalu.

Hari ini aku berdiri lama sekali didepan kelas kita dulu, Ittc-ku. Kita masih sangat muda waktu itu. Masih jelas di kepalaku bagaimana selalu saja ada satu anak yang membuat lelucon, lalu seisi kelas tertawa menimpali.

Masih lekat di ingatanku bagaimana hangat dan menyenangkannya kelas kita. Kita seperti keluarga. Tidak ada yang boleh tertawa saat yang lain tengah bersedih. Tidak ada keberhasilan yang boleh dirayakan seorang diri. Menyakitkan sekali rasanya saat kita kehilangan seseorang yang begitu kita sayangi, sahabat kita Almh Anita Harum Sari. Kita mungkin tak diikat oleh pertalian darah, tapi kehilangannya untuk selama-lamanya membuat satu lagi lubang di hati kita. Tidak pernah benar-benar sembuh sampai hari ini.

Hari ini aku melihat mereka, persis kita di 5 tahun yang lalu. Tertawa lepas, semua yang kita pikirkan saat seusia itu adalah ‘makanan apa yang bisa kita temukan di jam istirahat’, atau ‘bagaimana agar kita tidak ditunjuk untuk mengerjakan soal di depan kelas’. Kita bahkan tidak pernah memikirkan hal yang benar-benar serius seperti halnya ‘apa yang harus kita kerjakan untuk menghasilkan uang selepas kuliah’. Atau ‘perusahaan mana yang mungkin bisa memberi kita pekerjaan’, atau bahkan ‘kapan kita mulai bisa menyewa gedung pernikahan’.

Sungguh betapa aku merindukan masa muda kita, masa remaja kita, masa dimana bisa saja kita bertemu cinta pertama kita untuk pertama kalinya, masa dimana kita bertemu sahabat yang selalu memiliki tempat tersendiri di hati kita, masa yang kelak akan kita ceritakan pada anak cucu kita.

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-8

Selasa, 02 Februari 2016

Tentang Kehilangan



Sebelum ini, aku sudah berkali-kali memeluk kehilangan. Berkali-kali menyaksikan punggung-punggung yang kian menjauh. Berkali-kali menahan sesak, berkali-kali merelakan. Rasanya tidak akan begitu buruk melewati satu kali lagi kehilangan. Harusnya seperti itu. Tetapi selalu saja, kehilanganmu tidak pernah menjadi hal yang mudah. Aku tahu, aku hanya butuh sedikit mencoba, tidak akan sesulit kelihatannya.

Aku hanya butuh sedikit terbiasa untuk sekedar tidak mendapat ucapan selamat pagi darimu. Aku hanya perlu terbiasa untuk tidak mengandalkanmu. Aku hanya perlu lebih terbiasa berdiri di atas kakiku sendiri.

Kau tahu Tuan, sebelumnya kehilangan tidak pernah membuat teh ku menjadi sebegini hambar untuk ku sesap, atau lagu-lagu melow yang kudengar, mereka tidak pernah membuatku sebegini larut.

Pernah suatu hari kita berjanji untuk tidak saling meninggalkan, tidak peduli seberapa besar amarah di kepala kita. Tapi hari ini, kita sepakat untuk pergi, saling merelakan, mengubur mimpi-mimpi yang selalu kita bicarakan setiap hari sebelum terlelap.  

Bertahun-tahun bersamamu adalah bertahun-tahun kebahagiaan yang tak pernah habis diceritakan.

Sayangku, pergilah kemana kau ingin pergi. Mimpi-mimpimu, mereka telah menunggu untuk kau kejar. Kita hanya perlu terbiasa untuk tidak lagi berdua. Kau mungkin bisa temukan dia, temukan padanya apa yang tak kau temukan pada diriku. Berbahagialah.

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-4