Tentang Saya

Sabtu, 28 Januari 2012

Untuk kamu yang pernah ada—


 "dulu aku pernah meminta seseorang, siapapun membuka gembok yang menyekat pintu hatiku, lalu kau datang menawarkan kuncinya. dan kini aku kembalikan lagi kunci mu, karena aku menyadari mereka sudah tak saling melengkapi" —

“dulu, aku suka ketika kita “berjarak”. bagiku, itu waktu yang tepat untuk memupuk rindu yang akan kita lepaskan dengan pelukan. tapi kini, jarak yang kau buat terlalu jauh. masih ada rindu, tapi ini rindu seorang untuk yang pernah ada dihatinya.”—



"seperti sekarang ini pun tidak apa-apa. kita saling peduli. kadang saling menyapa, menanyakan kabar. tapi kita sama-sama menjaga hati agar tidak saling jatuh cinta lagi.” —


“masa lalu mengambil gambar yang tak pernah ada, dari kamera yang tak pernah nyata. tersadar, semua kini tak lagi sama.” —


“kehilangan kamu sudah sangat menyakitkan. jangan biarkan waktu juga harus dipenjara. biarkan dia hidup bebas. tolong, sekali ini kamu penuhi permintaanku. aku tidak punya cukup uang untuk menyewa pengacara menebus waktu. sungguh.” — 


“membuat segalanya menjadi mudah itu sulit. terutama saat kamu harus berjuang menghilangkan bayang-bayang masa lalu dari ingatanku. dia itu masa lalu. tapi masih bertengger begitu lekat, mencengkeram kuat perasaanku…” — 


“aku bingung harus beralasan apa jika orang-orang bertanya mengapa masih mengingatmu, mengapa masih bercerita tentangmu, dan mengapa masih rindu. mungkin mereka hanya tidak pernah jadi aku, yang dulu pernah begitu merasa aman dimiliki kamu.” — 

Selasa, 24 Januari 2012

Welcome 17!




Hari pertama di usiaku yang ke 17. Ada begitu banyak hal yang bergumul di otakku. Dan katakanlah untuk yang pertama kalinya aku mulai berani memikirkan tentang kedewasaan. Karena katanya, 17 tahun adalah usia dimana seseorang memasuki sebuah fase kedewasaan, 17 tahun adalah usia dimana sesorang sudah bukan lagi dikatakan anak kecil. Dan aku sadar, setidaknya mulai sekarang aku akan berusaha berhenti merengek, memikirkan hal-hal bodoh dan terlalu lama terpuruk. Ada begitu banyak daftar hal-hal konyol yang aku lakukan dalam 16 tahun terakhir ini dan setelah ini aku harus merobek lalu membuangnya.
Yang perlu dilakukan sekarang adalah bukan mengingat seberapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menjadi aku yang seperti sekarang ini tapi melihat bahwa aku masih memiliki waktu  untuk menjadi aku yang jauh lebih baik dari ini.
Lalu ada yang bilang, 17 tahun itu adalah fase dimana sesorang berada dalam kelabilan dan masa terombang-ambingnya remaja. Selalu ingin menjadi pusat dan bertindak layaknya dewa. Dan ya, kau tahu tidak ada hal lain di dunia ini yang paling aku inginkan selain menjadi pusat, mataharinya tata surya.

Sabtu, 21 Januari 2012

Langit-ku

 
 
Kepada langit,

Ini surat cinta pertamaku untukmu. Kamu tahu kan, kalau selama ini aku mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Aku mengucapkannya setiap waktu, aku bahkan pamer pada siapa saja. Katanya, cinta yang sungguhan, adalah cinta yang tak malu diungkapkan di hadapan dunia. Cinta yang sungguhan, adalah cinta yang mampu membuatmu menanggalkan semua ego. Dan hanya ingin semua orang tahu, bahwa kamu mencintainya. Hingga, tak ada yang berani mencintainya, sebanyak cinta yang kamu punya. Kamu memberinya batasan kepunyaan, ‘dia milikku’.

Dan langit, ‘kamu itu milikku’. Baiklah, anggaplah aku posesif.

***
Aku rasa aku mencintaimu sejak, sejak aku merasa bahwa kamu menyenangkan. Sejak setiap kali aku bahagia atau sedih, kamulah yang pertama kali terpikir untuk kusapa. Birumu, mereka melautkan langit. Mereka pun melautkan aku. Dan ya, kamu diam, kamu hening, kamu mendengarkan dan kamu menenangkan.

Kamu tahu, aku suka warnamu di pukul setengah sembilan pagi di hari yang cerah. Dengan bercak-bercak awan yang melayang.

***
Hey langit,

Oh come on, kenapa aku bisa secinta ini padamu? Kenapa aku selalu terpana setiap kali menatapmu, bahkan tanpa perlu lekat-lekat. Mungkin ini, adalah satu-satunya cinta pada pandangan pertama yang kupercaya ada di dunia. Kamu tahu kan manusia, aku tidak suka mereka yang sering menilai apa-apa dari bungkusnya. Mereka merendahkan isi. Mereka kerap menilai terlalu dini. Dan aku, kamu tahu aku kan, aku adalah pribadi yang tidak ingin repot-repot mencitrakan diriku untuk dicintai oleh cinta yang hobinya mengelupas kulit-kulit permukaan pada diri seseorang. Itu mengapa, aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama antar manusia. Setidaknya, sampai saat ini.

***

Kamu tahu langit, semua orang bilang Tuhan ada di atas sana. Lalu entah kenapa aku selalu percaya kau bersahabat dekat denganNya. Itu kenapa setiap kali memandangmu aku tak takut berharap. Kau, bukan cinta yang membuatku mengharap terlalu tinggi lalu takut jatuh tersungkur di suatu hari. Kau, memiliki kepercayaanku secara utuh. Keberanian untuk mencintai.

Kau tahu, biasanya ketika aku mendapatkan hari yang begitu buruk, aku akan memandangmu lalu hatiku akan bilang;

“Lihat, dengan kau berada di bawah biru atap dunia ini, bagaimana mungkin Tuhan tak melihatmu yang tengah kesulitan. Semua akan baik baik saja. Karena kamu, kamu tidak pernah luput dari perhatianNya.” Dan seperti sebuah keajaiban, aku pun akan merasa baikan setelahnya.

***

Bagiku, cinta yang baik itu penyembuh. Mereka yang bisa membuatmu merasa baik-baik saja di tengah hari yang teramat membosankan. Mereka yang akan dengan setia ramah mendengarkanmu ketika semua orang tengah menyebalkan. Ya, bagiku kau punya itu. Kau, selalu baik padaku langit. Kau pun baik pada bintang bintang, kau beri mereka kesempatan untuk benderang. Kau bahkan membiarkan awan-awan menangis sesuka hatinya, membuatmu sering tertutup gumpalan abu-abu sepanjang musim penghujan. Kau, yang melautkan langit, dan kau pun yang mengairi lautan. Kau begitu baik.

Dan hey langit,

Kamu itu juga seperti atap. Bukan hanya atap yang melindungi. Kau atap yang mengajarkan. Kau memperlihatkan padaku bahwa dunia ini ada dalam dua sisi, selalu ada gelap dan terang. Dan bahwa tak ada gelap yang sanggup berlangsung selamanya dan tak ada pula terang yang mampu bertahan selamanya.

Seperti tidak akan ada sedih yang mampu menetap selamanya dalam hidup, begitu pun tidak ada bahagia yang bisa kamu dekap sepanjang hidupmu. Hidup ini bagiku bukan roda seperti kepercayaan orang kebanyakan. Bagiku hidup ini adalah tentang gelap dan terang  yang terus mengganti harinya.

***

Dan langit, aku (akan) mencintaimu. Selalu.
Bahkan tanpa perlu kau cintai kembali 

Jumat, 20 Januari 2012

Sudah cukup, sudahi saja!

 
 
"Aku bukan angsa cantik dengan bulu putih mulus dan bersih, Inilah aku, anak bebek dengan bercak lumpur di sana sini."

Sudah cukup, sudahi saja, mungkin itu kata yang tepat untuk saat ini, atau mungkin untuk seterusnya. Aku hanya tidak ingin terluka lebih banyak lagi, tidak ingin terjatuh lebih dalam lagi.

Pernah aku jatuh cinta pada seorang pria, sangat jatuh cinta. Jatuh cinta yang begitu dalam. Aku menggantungkan banyak harapan padanya, hingga suatu hari ia mengecewakanku. Mematahkan harapanku berkeping-keping. Bukan lagi mematahkannya, aku rasa. Ia menghancurkannya.
Ia, pria yang aku sayangi dan mengaku menyayangiku itu kemudian memilih orang lain untuk menjadi wanitanya. Lalu aku, ditinggalkan begitu saja.

Luka yang ia tinggalkan begitu dalam, aku berusaha mengobatinya perlahan dan mencoba menyatukan kepingan-kepingan harapan yang remuk tadi, menempelnya satu demi satu dan memastikan tidak ada bagian yang hilang.
-------

Siapa yang ingin, luka mereka digoresi luka baru di tempat yang sama dengan "pisau" yang berbeda? Aku rasa tidak ada.

Aku hanya tidak ingin seperti dulu, terpuruk jatuh, terperangkap di dalam luka yang paling dalam dan sulit untuk merangkak keluar.

Pernah kamu mengatakan, "Hei, jangan menyerah", tapi kau seolah membuatku lelah dan ingin menyerah. Membuatku ingin pergi dengan sendirinya tanpa perlu repot-repot kauusir.
Maka, di sinilah aku. Jauh-jauh darimu, mencoba menjaga agar jarakku dan kamu seperti ini saja, agar aku tidak menjadi lebih terluka.

Dengan siapa pun atau bagaimana pun kamu nanti, aku akan (mencoba) bahagia.
Tentu saja, orang yang mengatakan akan turut bahagia bila orang yang ia sayangi memilih orang lain, itu hanya di mulut saja. Pada kenyataannya, rasa sakit itu tetap ada.

The Key



Mengapa tidak kau buka saja pintu hatimu untukku?

Aku kehilangan kuncinya.

Oh, bagaimana kalau kau bantu aku mendobraknya.

Mereka akan rusak.

Hm, kita bisa perbaiki sama sama.

Tapi, aku terkunci di dalam, bukan di luar bersamamu.

Ah, berarti yang tadi hanya alasan? Mengapa kau begitu banyak alasan untuk bertahan dalam kesedihanmu?

Begitu? Aku tidak menyadarinya.

Aku jelas melihatnya, karena aku peduli.

Tapi kamu jelas tidak mengerti.

Bagian yang mana? Soal kerusakan karena pintu didobrak paksa?

Apa kau benar tidak tahu sampai saat ini?

Jadi bukan itu? Lalu?

Kuncinya ada di sakumu.

Katakan di saku sebelah mana?!
Temukanlah, temukanlah mereka karena kamu begitu ingin kucintai.

Aku benci pencarian, dan bukankah kita sudah saling menemukan? Kau hanya perlu mengatakannya lalu kita akan bahagia.

Aku tak akan pernah kemana mana. Temukanlah mereka. Waktuku, mereka semua milikmu.

Kamu tahu, aku begitu menyesal.

Untuk?

Untuk tak merasa dicintaimu sejak lama. Ketika bahkan kamu telah berada di dalam diriku sendiri.

Senin, 16 Januari 2012

HeartBreak :'(

 
 
“ Aku pernah berharap begitu kuat, mencintai dengan begitu hebat. Lalu kemudian luka sedikit, hatiku pecah.”

Pernahkah kamu mengalami apa yang kalimat di atas ceritakan? Jatuh cinta yang begitu hebatnya kepada seseorang, kamu serahkan segala angan-angan tentang kebaikan di tangannya. Kamu cintai dia dengan begitu benar, begitu baik, begitu tulus. 

Lalu sebuah luka kecil menyentilmu dan kemudian hatimu “pecah”. Isinya tumpah, butir-butirnya yang bak pasir jatuh. Sebagian berserakan, sebagian terbang terbawa angin. Kemudian, beberapa berhasil kamu kumpulkan, namun sebagian besarnya hilang tak terselamatkan.

Minggu, 15 Januari 2012

Sajak Bodoh



Aku  bergerak..
Lalu Beranjak..
Masih terisak..
Hatiku terkoyak..
Mencoba berteriak..
Aku ingin didengar..
Tapi yang terlihat hanya pendar..
Mencoba tegar..  tapi pikiranku buyar..
Kau memndang penuh seloroh..
Lalu aku  berdiri tapi tergopoh..
Ah ini hanya sajak bodoh..

Kecewa




Aku benci untuk merasa kecewa, ketika semua hal tidak berjalan seperti yang kau harapkan. Ketika semua hal dianggap salah. 

Aku benci ketika tidak didengar, ketika kau berteriak dan semua orang hanya memandangmu dengan wajah datar.

Aku benci harus menjatuhkan butiran air mata, ketika ulasan senyum dianggap tak berharga.

Aku benci ketika harus mencari bahagia, memaksa mengingat hal-hal manis agar bisa tertawa.

Aku benci ketika harus menyadari mereka diluar sana mampu merasa menjadi orang paling beruntung sedunia.

Listening: fergie-big girl don’t cry

Balon

Aku suka balon, ia ringan tanpa beban.
menerbangkan bahagia bersama angin