Tentang Saya

Sabtu, 03 Februari 2018

Kita, Hujan dan Payung Teduh


Hari itu, sebuah sore paling menangis, hujan tumpah ruah.

Sayang,

Katakan padaku. Apa yang lebih basah dari sore dua hari yang lalu?
Dibanding kita dan percakapan, semangkuk sup dan alunan Payung Teduh.

Katakan padaku apa yang lebih api?
Dibandingkan perasaan yang bergumul di dada kita.

Seperti hujan yang menerbangkan bunga akasia di atas kap mobil kita , perasaan kita tak pernah tempias. Gemericiknya menari-nari sendiri macam bedaya menarikan bisu.

Langit gulita menahan kita. Kataku, bahumu adalah lembah surga yang terjatuh ketika batu-batu langit menghantam bumi dan memusnahkan dinosaurus. Aku tenggelam di dadamu, terpejam, seperti ombak yang salah mengira musim apa yang telah datang.

Aku ingin terlahir sebagai seseorang yang pertama kali kau lihat ketika matamu terbuka sebagai ombak yang telah mempelajari datangnya musim-musim.

Sore itu milik kita,
Pun Payung Teduh yang bercerita tentang sepasang muda mudi yang baru saja berikrar untuk mencoba lagi mencinta, di atas semua resah. Di ujung malam

Tapi…
Hari ini, kita memilih menyerah, ego menenggelamkan kita.
Kubilang kita berpisah saja, katamu ya sudah lah.
Kita kalah

Hari ini hujan lagi, tapi langit gersang
Karena seluruh hujan tumpah di wajahku

Sayang,
 kau menjelma batas negara
Aku imigran tersesat yang merindukan pulang
Pelukmu adalah konstitusi, ketiadaanmu laksana bui

Sayang,
Kita kalah.


- Palembang, Feb 2018